BERBAGAI NIKMAT
Pertama dan utama, beliau memuji kebesaran Allah dan bershalawat kepada baginda Rasulullah kemudian dibuka langsung dengan membacakan sepotong firman Allah dalam Surat Ibrahim 14:7,
“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.
Maulana Faruq menguraikan, nikmat ada tiga macam
1. Nikmat yang dirasakan di luar diri manusia,
2. Nikmat yang dirasakan dalam tubuh manusia,
3. Nikmat iman yang dimiliki manusia.
Nikmat luar diri manusia seperti nikmat penglihatan yang indah-indah oleh mata, nikmat pendengaran yang merdu oleh telinga, dan nikmat lancarnya buang air besar/kecil di toilet.
Kedua, nikmat yang ada dalam diri manusia seperti merasakan hati yang tenang, jantung masih bergerak dengan normal mengalirkan darah ke seluruh tubuh; nikmat pikiran/otak yang masih berpikir secara normal, nikmat makanan/minuman yang dirasakan oleh mulut masuk ke tenggorokan dan sebagainya. Semuanya merupakan nikmat-nikmat dari Allah yang tidak ternilai besarnya yang sangat perlu kita syukuri.
Ketiga, adalah nikmat iman dan Islam yang kita miliki. Tapi nikmat iman dan Islam ini tidak diberikan kepada semua orang oleh Allah selaku Pemiliknya. Allah akan memberikan kepada orang-orang pilihan dan orang-orang yang berusaha atau bekerja atas pentingnya nikmat iman dan Islam itu. Sebab perkara pentingnya iman dan Islam ini akan menentukan nasib manusia, apakah mau masuk Surga atau neraka buat selama-lamanya.
Allah akan mencabut nikmat-nikmat matanya, telinganya, mulutnya, jantung/hatinya, semuanya akan jadi susah, gelisah, resah, kacau balau, karena nikmat iman telah tercabut dari dirinya.
Ketinggian nikmat iman ini, apabila dimiliki manusia, ia akan Iebih bernilai, Iebih baik daripada malaikat. Tapi kebalikannya, apabila nikmat iman ini telah tercabut dari ummat, mereka Iebih buas daripada binatang. Kadang-kadang dibuat-buat berhati lembut tapi ganas, berlagak sopan tapi buas.
USAHA NUBUWAH
Oleh sebab itu kita berkumpul di sini (Ijtima’ Serpong Tangerang) harus ada usaha/kerja agama atas pentingnya iman. Usaha ini baru bisa berhasil bila mengikuti usaha/kerja nubuwah yaitu usaha kerja sebagaimana yang telah dibuat Nabi kita dahulu Nabi Muhammad saw. bersama para sahabatnya. Kerja/usaha ini adalah kerja Dakwah dan Tabligh yang digerakkan ke seluruh alam.
Nabi kita adalah Nabi penutup, maka usaha dakwah dan tabligh ini diwariskan kepada kita semua Selaku umat Nabi Muhammad saw. Tugas ini dapat kita lihat dan ketahui dalam Surat All Imran 3: 110,
“Kamu adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk seluruh manusia, mengajak kepada ma’ruf (kebaikan) dan melarang kepada kemungkaran, barulah kamu beriman kepada Allah.”
TIDAK DAKWAH
Kerja “dakwah” ini sangat penting sekali dibuat. Kalau kita tidak buat, maka akan seperti mesin penyedot air yang dibiarkan rusak tidak jalan. Air akan kering walaupun di sumur atau di kolam sumber airnya masih penuh. Begitu juga sebuah pabrik gula kalau tidak dioperasikan lagi, maka gula-gula yang ada di toko-toko dan di gudang-gudang akan habis termasuk juga kalau petani tidak mau turun ke sawah, maka beras lambat laun akan habis, rakyat akan kelaparan.
Begitulah pentingnya usaha nubuwah harus kita operasikan, gerakkan kembali hari ini. Boleh kita lihat di mana-mana hari ini, Masjid banyak dan besar-besar, tapi isinya kosong bagaikan gedung museum. Lantaran kerja tidak dibuat, maka iman ummat sudah tercabut, bahkan telah menjadi murtad. Situasi dunia akan menjadi buruk, kehidupan masyarakat kacau tidak menentu kehilangan arah kebaikan. Jika suasana dakwah telah ditinggalkan maka berbagai nikmat akan dicabut oleh Allah Swt, dan diganti dengan turunnya bala bencana, musibah, keburukan, kerusakan yang menghancurkan manusia itu sendiri, bagaikan tiada henti-hentinya.
KISAH SAHABAT PERGI BERDAKWAH
Dulu ada suatu kisah satu jamaah telah diberangkatkan ke suatu negeri oleh Rasulullah. Setelah jamaah para sahabat itu sampai di negeri itu, dimulailah membuat kerja dakwah. Maka tokoh-tokoh masyarakat Setempat melakukan pertanyaan dengan nada penuh kecurigaan.
“Untuk apa kalian datang ke negeri kami ini, mungkin kalian ditimpa kemiskinan atau kelaparan di negeri kalian. Mungkin juga kalian mau mengajak atau mau membuat kekacauan di negeri kami?”
Dengan spontan Amir Jama’ah itu menjawab, “Kami datang ke sini telah dihantar oleh Allah Swt. untuk tugas dakwah. Guna mengeluarkan kalian dari alam kegelapan kepada alam terang benderang, yaitu agar dapat mengamalkan agama secara sempuma. Kami datang ke sini membawa perbekalan secukupnya dan bukan untuk meminta sedekah. Kami juga bukan untuk membuat kekacauan di negeni kalian ini, melainkan menyadarkan kalian, bahwa dalam menempuh kehidupan di dunia yang sementara ini dan kehidupan akhirat buat selama-lamanya supaya memiliki iman dan amal shalih.”
Para sahabat berangkat pergi dakwah dengan adab uslul (tertib) yang matang. Menjaga shalat wajib ditambah shalat sunat, dzikir pagi dan petang, mereka berbicara tentang kebesaran, kehebatan, keesaan Allah Swt. Semua petunjuk Rasulullah saw (sunnah) mereka patuhi penuh keberanian dengan hikmah.
Alhasil penduduk negeri itu menerima mereka dengan penuh kebaikan dan memberikan kerjasama sebagal orang anshar (tempatan) kepada kaum muhajirin (pendatang). Sehingga dengan adanya kerjasama dibuat di negeri itu, maka Allah menurunkan hidayah yang menjadikan negeri itu sejahtera adil dan makmur.
Perkara kerjasama antara muhajirin dan anshar ini mendapat ridha dari Allah sebagaimana tertuang dalam surat at Taubah 91: 100
“Orang-orang yang terdahulu lagi awal masuk Islam di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang selalu mengikuti jejak gerak mereka dengan penuh kebaikan. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan untuk mereka disediakan Surga yang mengalir sungai-sungai yang penuh kenikmatan di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya SeIama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar.”
Begitu usaha berjalan dengan mulus di negeri itu sehingga penduduk negeri itu berkata kepada jamaah yang datang (muhajirin), “Apa yang perlu kami bantu?”
Langsung dijawab oleh salah seorang jemaah, “Kami malu minta bantuan kepada anda, sebab kami telah dibantu oleh Allah Pencipta tujuh petala langit dan bumi beserta isinya.”
Demikian juga jika kita mau buat usaha ini kembali, usaha nubuwah yang telah banyak ditinggalkan ummat, insya Allah keadaan umat akan berubah menuju kebaikan, kesejahteraan yang hakiki.
Oleh sebab itu kita jangan ragu-ragu dan malas membuat kerja agama ini kembali, seru Maulana Faruq yang datang dari negara Pakistan. Kami siap berangkat! Jawab jamaah bergelora di medan ljtima’ Serpong, Tanggerang Provinsi Banten.
Pertama dan utama, beliau memuji kebesaran Allah dan bershalawat kepada baginda Rasulullah kemudian dibuka langsung dengan membacakan sepotong firman Allah dalam Surat Ibrahim 14:7,
“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.
Maulana Faruq menguraikan, nikmat ada tiga macam
1. Nikmat yang dirasakan di luar diri manusia,
2. Nikmat yang dirasakan dalam tubuh manusia,
3. Nikmat iman yang dimiliki manusia.
Nikmat luar diri manusia seperti nikmat penglihatan yang indah-indah oleh mata, nikmat pendengaran yang merdu oleh telinga, dan nikmat lancarnya buang air besar/kecil di toilet.
Kedua, nikmat yang ada dalam diri manusia seperti merasakan hati yang tenang, jantung masih bergerak dengan normal mengalirkan darah ke seluruh tubuh; nikmat pikiran/otak yang masih berpikir secara normal, nikmat makanan/minuman yang dirasakan oleh mulut masuk ke tenggorokan dan sebagainya. Semuanya merupakan nikmat-nikmat dari Allah yang tidak ternilai besarnya yang sangat perlu kita syukuri.
Ketiga, adalah nikmat iman dan Islam yang kita miliki. Tapi nikmat iman dan Islam ini tidak diberikan kepada semua orang oleh Allah selaku Pemiliknya. Allah akan memberikan kepada orang-orang pilihan dan orang-orang yang berusaha atau bekerja atas pentingnya nikmat iman dan Islam itu. Sebab perkara pentingnya iman dan Islam ini akan menentukan nasib manusia, apakah mau masuk Surga atau neraka buat selama-lamanya.
Allah akan mencabut nikmat-nikmat matanya, telinganya, mulutnya, jantung/hatinya, semuanya akan jadi susah, gelisah, resah, kacau balau, karena nikmat iman telah tercabut dari dirinya.
Ketinggian nikmat iman ini, apabila dimiliki manusia, ia akan Iebih bernilai, Iebih baik daripada malaikat. Tapi kebalikannya, apabila nikmat iman ini telah tercabut dari ummat, mereka Iebih buas daripada binatang. Kadang-kadang dibuat-buat berhati lembut tapi ganas, berlagak sopan tapi buas.
USAHA NUBUWAH
Oleh sebab itu kita berkumpul di sini (Ijtima’ Serpong Tangerang) harus ada usaha/kerja agama atas pentingnya iman. Usaha ini baru bisa berhasil bila mengikuti usaha/kerja nubuwah yaitu usaha kerja sebagaimana yang telah dibuat Nabi kita dahulu Nabi Muhammad saw. bersama para sahabatnya. Kerja/usaha ini adalah kerja Dakwah dan Tabligh yang digerakkan ke seluruh alam.
Nabi kita adalah Nabi penutup, maka usaha dakwah dan tabligh ini diwariskan kepada kita semua Selaku umat Nabi Muhammad saw. Tugas ini dapat kita lihat dan ketahui dalam Surat All Imran 3: 110,
“Kamu adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk seluruh manusia, mengajak kepada ma’ruf (kebaikan) dan melarang kepada kemungkaran, barulah kamu beriman kepada Allah.”
TIDAK DAKWAH
Kerja “dakwah” ini sangat penting sekali dibuat. Kalau kita tidak buat, maka akan seperti mesin penyedot air yang dibiarkan rusak tidak jalan. Air akan kering walaupun di sumur atau di kolam sumber airnya masih penuh. Begitu juga sebuah pabrik gula kalau tidak dioperasikan lagi, maka gula-gula yang ada di toko-toko dan di gudang-gudang akan habis termasuk juga kalau petani tidak mau turun ke sawah, maka beras lambat laun akan habis, rakyat akan kelaparan.
Begitulah pentingnya usaha nubuwah harus kita operasikan, gerakkan kembali hari ini. Boleh kita lihat di mana-mana hari ini, Masjid banyak dan besar-besar, tapi isinya kosong bagaikan gedung museum. Lantaran kerja tidak dibuat, maka iman ummat sudah tercabut, bahkan telah menjadi murtad. Situasi dunia akan menjadi buruk, kehidupan masyarakat kacau tidak menentu kehilangan arah kebaikan. Jika suasana dakwah telah ditinggalkan maka berbagai nikmat akan dicabut oleh Allah Swt, dan diganti dengan turunnya bala bencana, musibah, keburukan, kerusakan yang menghancurkan manusia itu sendiri, bagaikan tiada henti-hentinya.
KISAH SAHABAT PERGI BERDAKWAH
Dulu ada suatu kisah satu jamaah telah diberangkatkan ke suatu negeri oleh Rasulullah. Setelah jamaah para sahabat itu sampai di negeri itu, dimulailah membuat kerja dakwah. Maka tokoh-tokoh masyarakat Setempat melakukan pertanyaan dengan nada penuh kecurigaan.
“Untuk apa kalian datang ke negeri kami ini, mungkin kalian ditimpa kemiskinan atau kelaparan di negeri kalian. Mungkin juga kalian mau mengajak atau mau membuat kekacauan di negeri kami?”
Dengan spontan Amir Jama’ah itu menjawab, “Kami datang ke sini telah dihantar oleh Allah Swt. untuk tugas dakwah. Guna mengeluarkan kalian dari alam kegelapan kepada alam terang benderang, yaitu agar dapat mengamalkan agama secara sempuma. Kami datang ke sini membawa perbekalan secukupnya dan bukan untuk meminta sedekah. Kami juga bukan untuk membuat kekacauan di negeni kalian ini, melainkan menyadarkan kalian, bahwa dalam menempuh kehidupan di dunia yang sementara ini dan kehidupan akhirat buat selama-lamanya supaya memiliki iman dan amal shalih.”
Para sahabat berangkat pergi dakwah dengan adab uslul (tertib) yang matang. Menjaga shalat wajib ditambah shalat sunat, dzikir pagi dan petang, mereka berbicara tentang kebesaran, kehebatan, keesaan Allah Swt. Semua petunjuk Rasulullah saw (sunnah) mereka patuhi penuh keberanian dengan hikmah.
Alhasil penduduk negeri itu menerima mereka dengan penuh kebaikan dan memberikan kerjasama sebagal orang anshar (tempatan) kepada kaum muhajirin (pendatang). Sehingga dengan adanya kerjasama dibuat di negeri itu, maka Allah menurunkan hidayah yang menjadikan negeri itu sejahtera adil dan makmur.
Perkara kerjasama antara muhajirin dan anshar ini mendapat ridha dari Allah sebagaimana tertuang dalam surat at Taubah 91: 100
“Orang-orang yang terdahulu lagi awal masuk Islam di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang selalu mengikuti jejak gerak mereka dengan penuh kebaikan. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan untuk mereka disediakan Surga yang mengalir sungai-sungai yang penuh kenikmatan di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya SeIama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar.”
Begitu usaha berjalan dengan mulus di negeri itu sehingga penduduk negeri itu berkata kepada jamaah yang datang (muhajirin), “Apa yang perlu kami bantu?”
Langsung dijawab oleh salah seorang jemaah, “Kami malu minta bantuan kepada anda, sebab kami telah dibantu oleh Allah Pencipta tujuh petala langit dan bumi beserta isinya.”
Demikian juga jika kita mau buat usaha ini kembali, usaha nubuwah yang telah banyak ditinggalkan ummat, insya Allah keadaan umat akan berubah menuju kebaikan, kesejahteraan yang hakiki.
Oleh sebab itu kita jangan ragu-ragu dan malas membuat kerja agama ini kembali, seru Maulana Faruq yang datang dari negara Pakistan. Kami siap berangkat! Jawab jamaah bergelora di medan ljtima’ Serpong, Tanggerang Provinsi Banten.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar