Total Tayangan Halaman

Minggu, 06 Oktober 2013

bayan KH. Udzairon – Temboro Syuro Indonesia : Jawa Timur, Madiun.

KH. Udzairon – Temboro Syuro Indonesia : Jawa Timur,Madiun.
Bayan Maghrib
Asskm Wr Wb,
Setiap kerja ada Modalnya, dan
Modal dari usaha agama ini adalah
keyakinan yang shahih, yaitu :
1. Keyakinan yang shahihkepada Allah Swt
2. Keyakinan yang shahih
kepada Rasullullah Saw
3. Keyakinan yang shahihkepada Kitabullah
4. Keyakinan yang shahihkepada adanya para Malaikat
5. Keyakinan yang shahihkepada Negeri Akherat yangabadi
6. Keyakinan yang shahihkepada Keputusan Allah( Qadha dan Qadhar )
Rasullullah Saw memegangjanggutnya, lalu berkata :
“Aku beriman dengan Taqdir Allahatau ketentuan Allah, baik
ketentuan yang baik dan yangburuk, baik ketentuan yang manis
maupun yang pahit. Semuanyaadalah dari Allah Swt.”
Seluruh para Nabi dan Rasul, yangditugaskan untuk usahakan agama,
maka semuanya dibekali dengankeyakinan. Nabi Musa AS diutus
untuk dakwah ke Mesir oleh AllahSwt, mendapati medan yang
begitu berat yaitu menghadapipenguasa lalim Fir’aun Laknatullah
Alaih. Firaun saat itu adalah seseorang yang mempunyai
kekuasaan, mempunyai kerajaan,mempunyai tahta, mempunyai
tentara, mempunyai harta, dansegala macam asbab. Sementara
Nabi Musa AS diutus Allah Swt untuk buat usaha atas agama dimesir tidak dimodali asbab
apapun. Nabi Musa AS dalam
menghadapi Firaun hanya membawa baju yang terpakai dan
tongkat saja. Bajunya juga baju yang lama, yang dia pakai sehari-
hari, dan tongkatnya juga yang lama, yang dipakai untuk
mengembala kambing dan untuk bersandar. Jadi tidak ada hal-hal
baru secara meteri atau dzohir dari diri Nabi Musa AS, yang baru
  Allah Swt telah tanamkan keyakinan dalam diri Musa AS,
keyakinan akan Qudratullah :
“Innani annalloha la illaha illa ana, fa’budni, wa akimisholata lidzikri”
Artinya : “Sesungguhnya aku ini
adalah Allah, tidak ada tuhan yang patut disembah selain Aku…”
Maksudnya apa :
1. Tidak ada yang perlu ditakuti dengan sebenar- benarnya selain Allah Swt
2. Tidak ada yang patut dicintai dengan sebenar-benarnya selain Allah Swt
3. Tidak ada yang perlu diagungkan dengan sebenar-benarnya selain Allah Swt
4. Tidak ada yang perlu ditunduki dengan sebenar- benarnya selain Allah Swt.
5. Tidak ada yang perlu diharapkan dengan sebenar- benarnya selain Allah Swt.
Inilah pembakalan yang diberikan
kepada Musa AS oleh Allah Swt yaitu mengenal Allah Swt. Setelah
mengenal Allah Swt, maka berikutnya Musa AS diberikan jalan
  Swt yaitu dengan sholat. Begitu juga dengan Nabi Saw yang
di utus keseluruh alam oleh Allah Swt, juga tidak dibekali dengan
kebendaan ataupun asbab-asbab dzohir apapun. Ketika beliau
masih kecil, Allah Swt telah kirim Jibril AS untuk membedah dada
Nabi SAW, mengambil daripada Hati Nabi SAW untuk dicuci dengan
air zamzam. Kemudian Jibril AS
membawa suatu wadah yang berisikan Iman dan Hikmah untuk
dimasukkan kedalam hati Nabi Saw. Begitu juga ketika Nabi Saw
hendak menjadi Nabi, maka kejadian yang sama terulang
kembali, dada nabi Saw dibedah kembali untuk di ambil hatinya
dibersihkan kembali dan di isi dengan Iman dan Hikmah.
Kejadian ini menurut ulama berulang sampai 3 kali :
1. Ketika masih kecil / anak- anak
2. Ketika remaja menjelang menjadi Nabi
3. Ketika hendak Isra’ Mi’raj Nabi Saw tidak diberikan benda- benda atau materi-materi
keduniaan, tetapi diberikan Iman dan Hikmah. Kitapun juga seperti
itu, bahwa keyakinan yang betul terhadap Allah Swt merupakan modal terpenting dalam usaha agama ini :
1. “Allahu kholiku kulli syai”: Allah pencipta segala sesuatu
2. “Allahu al qodir ala kulli syai” : Allah berkuasa atas segala sesuatu
3. “Allahu al alim bikulli syai” : Allah
yang mengetahui segala sesuatu Apa yang dikehendaki oleh Allah
pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki oleh Allah pasti tidak akan terjadi :
“Innama amruhu Idza arroda syai’an an yakullu kun fa yakun” : “Jika Allah menghendaki
menciptakan sesuatu maka Allah hany berfirman : “Kun” maka akan terjadi”
Allah Swt menciptakan yang besar dan yang kecil dengan cara yang
sama, begitu juga dengan surga dan neraka, dunia dan akherat,
hanya dengan kata-kata : “Kun” – “Jadilah”, maka langsung terjadi.
Perkara besar dan perkara kecil disisi Allah sama saja, diciptakan
dengan “Kun” maka langsung jadi. Di hadapan Allah Swt ini seorang
Raja dengan seekor nyamuk ini sama saja. Kalau Allah
menghendaki bisa saja Raja membunuh nyamuk, jika Allah
menghendaki bisa saja nyamuk membunuh raja. Semuanya
menurut Kehendak Allah Swt saja. “Allahu lima yurid” : “Allah
bertindak menurut apa yang dia mau, berbuat apa saja yang Allah
mau, tanpa ada bantuan apapun dan siapapun.” Allah Swt :
1. Dialah yang meninggikan langit tanpa tiang
2. Dialah yang menjalankan Matahari tanpa alat Semuanya hanya dengan “Kun”
Fayakun. Allah Swt tidak perlu bantuan apa saja dan siapa saja.
Apaq yang dikehendaki Allah akan terjadi, dan apa yang tidak
dikehendaki Allah tidak mungkin terjadi. Mahluk tidak bisa berbuat
apa-apa tanpa kehendak Allah Swtmtermasuk denyut-denyut jantung
manusia ada dalam genggaman Allah Swt.
“Wama tasya una illa ayasha Allah” : Kamu semua tidak bisa
berkehendak kecuali dengan kehendak Allah. Dialah Allah Swt :
1. Al Muhyi yang menghidupkan, Dia lah Allah Swt adalah Al Mumit yang mematikan.
2. Ar Rofiq yang meninggikan, Al Khofiq yang merendahkan
3. Dialah Allah yang membikin orang tertawa, Dialah Allahyang membikin orang menangis
4. Dialah Allah yang membikin orang benci, dan Dialah Allah yang membikin orang cinta
 
Bagaimana bencinya Firaun
kepada Musa AS, Nabi Musa AS
belum lahir tapi Firaun sudah
benci. Saking bencinya kepada
Nabi Musa AS, Firaun
menggerakkan pasukan-pasukan
untuk mencari Musa AS yang
masih bayi sampai membunuh
70.000 bayi setiap tahunnya.
Anehnya setelah bayi Musa AS ada
di depan mata, bukannya dibunuh,
tapi mindset Firaun berubah,
malah memeliharanya. Mendadak
pemikiran Firaun ini berubah,
programnya berubah yang dari
ingin membunuhnya, malah Nabi
Musa AS diangkat menjadi
anaknya, dipelihara oleh Firaun.
Jadi pada Hakekatnya yang punya
program hanya Allah Swt.
Allah Swt yang Maha Kuat, mahluk
tidak mempunyai kekuatan apa-
apa :
1. Indonesia tidak kuat, yang
kuat itu adalah yang
menciptakan Indonesia
2. Amerika tidak kuat, yang
kuat itu adalah yang
menciptakan Amerika
3. China itu tidak kaya, yang
kaya itu yang menciptakan
negeri China
4. Jepang itu tidak pandai, yang
pandai itu adalah yang
menciptakan orang-orang
jepang
“La illaha illallah”
Maka yang diharap hanya Allah,
kalau kita punya harapan kepada
selain Allah ini namanya tidak adab
kepada Allah Swt. Bukankah Allah
itu Maha Kaya dan Maha Kuasa,
padahal Allah Swt sudah
menyuruh kita minta kepada
Nya,kok mintanya atau
berharapnya kepada selain Allah,
ini namanya tidak punya adab.
Bagaiamana seorang anak punya
orang tua yang sayang pada dia
dan kaya raya, tetapi si anak ini
malah minta-minta, mengemis,
kepada tetangganya yang miskin
lagi. Maka marahlah si orang tua :
“Anak kurang ajar (dijewer si
anak), kamu ini bukannya minta
padaku malah minta pada orang
lain, bukankah ayahmu ini banyak
uang dan sayang padamu, kenapa
malah minta ke tetangga yang
miskin. Bikin malu orang tua
saja !” Maka orang tua yang
mendapatkan anaknya berlaku
demikian akan marah kepada si
anak karena mengemis-ngemis
kepada orang lain dibanding
meminta kepada orang tuanya.
Jadi seorang hamba yang meminta
kepada selain Allah Swt ini
merupakan kesalahan yang besar.
Tetapi kebanyakan manusia tidak
menganggap ini suatu kesalahan.
Begitu juga dengan rasa takut
kepada selain Allah Swt, ini juga
merupakan kesalahan yang besar,
padahal selain Allah ini tidak bisa
berbuat apa-apa, tanpa kehendak
Allah Swt. Seseorang tahu bahwa
dia dilihat oleh Allah Swt, di
dengar oleh Allah Swt, tapi
takutnya malah kepada selain
Allah, ini namanya tidak punya
akhlaq kepada Allah Swt. Jadi
jangan menggantungkan harapan
kepada selain Allah, jangan kita
takuti selain Allah, berharap dan
takut hanya kepada Allah saja,
inilah sikapnya orang beriman.
Malu jika berharap kepada selain
Allah, malu kalau sampai takut
kepada selian Allah. Syaidina
Abdullah Ibnu Umar RA ketika
memegang kepala singa berkata :
“Saya malu kalau saya takut
kepada selain Allah.” Maka kita
luruskan keyakinan kita kepada
Allah, sehingga kita senantiasa
dalam setiap keadaan dapat
tawajjuh kepada Allah Swt. Kerja
Dakwah ini sangat berhajat kepada
ketawajuhan kita terhadap Allah
Swt. Semua kerja perlu tawajjuh
kepada Allah Swt karena kita ini
tidak dapat melakukan apa-apa
tanpa pertolongan Allah Swt. Da’i
ini hakekatnya kata masyeikh kita
wajahnya menghadap mahluk, tapi
hatinya hanya menghadap kepada
Allah Swt. Da’i ini dzohirnya
mengetuk pintu-pintu rumah, tapi
hakekatnya sedang mengetuk-
ngetuk pintu hidayah Allah Swt.
Ketika Rasullullah Saw memegang
baju umar lalu mengatakan :
“Wahai umar apakah kamu tidak
akan jera-jera untuk berada dalam
kekufuran sampai datang murka
Allah kepada kamu ? Ya Allah
berikanlah hidayah kepada Umar.”
Lalu Umar RA langsung
mengucapkan, “Ashadu alla illaha
illallah wa ash hadu anna
Muhammadar rosullullah.”
Setiap orang bertanya ini kiatnya
bagaimana agar bisa
mengeluarkan rombongan-
rombongan untuk keluar dijalan
Allah. Mudah saja, andaikata kita
selalu dalam keadaan Tawajjuh
kepada Allah Swt, sehingga Allah
berkenan menyelesaikan masalah
kita, maka semua masalah akan
selesai. Kesulitan apa saja,
andaikan kita mau tawajjuh
kepada Allah, Tawakkal kepada
Allah Swt, nanti Allah akan
selesaikan masalah kita.
Nabi Musa AS menghadapi
masalah di depannya ada lautan,
sedangkan di belakang ada
pasukan Firaun yang siap
membantai Nabi Musa AS dan
Bani Israil. Semua orang ketika itu
dalam ketakutan dan berputus
asa. Nabi Musa AS mengajarkan
kepada kita kiat menyelesaikan
masalah. Apa itu ? yaitu Tawajjuh
kepada Allah Swt :
“Innama iyya Robbi sayahdeen” :
“Tuhanku bersamaku” dia akan
memberi petunjuk kepadaku.
Akhirnya selesai masalah. Begitu
pula apa yang di contohkan oleh
Nabi Ibrahim AS dalam
menyelesaikan masalah yaitu
ketika menghadapi Namruts
Laknatullah Alaih dengan pasukan-
pasukannya. Bagaimana Nabi
Ibrahim menyelesaikan masalah
yaitu dengan Tawajjuh kepada
Allah :
“Hasbunallah” : “Cukup Allah saja
sebagai penolongku”
Akhirnya datang penolongan Allah
Swt. Begitu juga junjungan kita
Nabi Saw, ketika menghadapi
masalah, dikejar-kejar orang kafir
Quraish hendak dibunuh, yaitu
tawajjuh kepada Allah Swt :
“Innalloha Ma ana” : “Allah
bersama kita”
Akhirnya datang pertolongan Allah
Swt. Begitu juga para sahabat RA
dalam menghadapi masalah yaitu
dengan Tawajjuh kepada Allah Swt,
maka semua masalah mereka
Allah selesaikan. Jadi untuk
menyelesaikan masalah yang ada
tidak ada jalan selain Tawajjuh
kepada Allah, tambah tawakkal,
tambah takut kepada Allah, dan
tambah harap hanya kepada Allah.
Inilah satu-satunya dalam
menyelesaikan masalah.
Kisah :
Seorang ulama ber doa terus
berdoa, maka setiap berdoa keluar
kata-kata, “Doa kamu tidak
diterima.” Dia terus berdoa lagi,
maka tetap keluar kata-kata
seperti itu, “Doa kamu tidak
diterima.” Walaupun keluar kata-
kata seperti itu dia tetap terus
berdoa. Sangking seringnya keluar
kata-kata seperti itu, sampai-
sampai muridnya bisa
mendengarkan suara tersebut.
Maka suatu ketika pergilah ulama
untuk melaksanakan Haji, lalu
berdoalah dia di depan kabah
bersama murid-muridnya. Namun
tetap saja setiap kali berdoa
didepan ka’bah, maka suara itu
tetap mengatakan, “Do’a kamu
tidak diterima.”
Akhirnya si murid nya berkata :
“Wahai syekh, setiap kali anda
berdoa, selalu keluar suara seperti
itu, “doa kamu tidak diterima”,
tapi kenapa syekh tetap terus
berdoanya.”
Si ulama tadi berkata : “Kamu tahu
sudah berapa lama aku
mendengarkan suara seperti itu ?”
si murid bilang : “Tidak tahu.”
Si ulama tadi mengatakan : “Aku
sudah mendengarkan suara itu
selama 40 tahun. Setiap saya doa
musti keluar suara seperti ini,
“Doa kamu tidak diterima” ?”
Lalu si murid menanyakan :
“Kenapa tetap berdoa kalau
keadaannya seperti itu ?”
Si ulama itu mengatakan :
“Kalaupun Allah Swt menolak doa
saya sejuta kali, maka saya akan
balik lagi untuk berdoa lagi sejuta
kali, habis siapa yang bisa
mengabulkan doa saya selain Allah
Swt. siapa yang bisa menolong
saya selain Allah ? kalau doa saya
ditolak, maka saya akan balik lagi
berdoa. Ditolak lagi, saya balik lagi
berdoa, saya akan berbuat terus
seperti itu. Ini karena saya mau
cari siapa, tidak ada lagi tuhan
selain Allah. Siapa lagi yang bisa
memperkenankan doa saya selain
Allah ? Ada tuhan mana lagi selain
Allah ?”
Setelah targhib yang ulama
berikan ini kepada muridnya, tiba-
tiba keluar suara tersebut,
“Sekarang doa kamu sudah
diterima.”
Maka kita tawajjuh terus kepada
Allah, doa terus kepada Allah,
jangan putus asa. Cerita ini
didukung oleh suatu hadits :
“Tidak henti-hentinya seorang
hamba itu mengucapkan, “Ya
Allah….. Ya Allah….” Akhirnya
diterima juga.” ( Mahfum Hadits )
Jadi tidak cukup sekali berdoa itu.
Doa lagi, “Maza’ala”, terus do’a
lagi, “La ya zallu”, tidak henti
henti. Sampai akhirnya diterima
juga doanya oleh Allah Swt. Inilah
hakekat usaha kita. Usaha kita ini
bukan untuk banyak-banyakan
orang, tapi bagaimana mempunyai
hubungan benar dengan Allah.
“Barangsiapa yang mendapatkan
Allah maka dia telah mendapatkan
segala-galanya. Barangsiapa yang
telah kehilangan Allah, dia telah
kehilangan segala-galanya.”
Allahlah penguasa segalanya,
pembuat keputusan atas segala
sesuatu, maka barangsiapa yang
mendapatkan Allah, maka dia telah
mendapatkan segalanya. Inilah
pentingnya kenapa kita harus
punya hubungan baik dengan Allah
Swt, karena barangsiapa yang
telah kehilangan Allah, hakekatnya
dia telah kehilangan segala-
galanya. Inilah Targhib yang
diberikan oleh Syeikh Abdul Wahab
ketika datang di jakarta 2008
kemarin, dari waktu isya sampai
makan jam 11 malam, hanya ini
intinya diulang-ulang oleh beliau.
Inilah bekal kerja agama, tawajjuh
kepada Allah, doa siang dan
malam kepada Allah.
Setelah kita Tawajjuh kepada Allah,
maka langkah yang kedua adalah
bagaimana kita menyibukkan diri
kita dalam perintah-perintah
Allah. Nabi Saw katakan dalam
hadits qudsi :
“Ma taqoroba ilaiya abdi fi mislih
ma tarobtuhu alaih”
“Tidak ada cara untuk
mendekatkan diri kepada Allah
melebihi amalan-amalan fardhu.” :
1. Jaga Sholat Wajib
2. Jaga Puasa
3. Jaga Zakat
4. Jaga Haji bagi yang mampu
Beli rumah 100 juta mampu kok
haji tidak mampu ? beli mobil 50
juta mampu tapi haji kok tidak
mampu ? ini bukan tidak mampu
namanya, tapi tidak mau. Jadi
amalan-amalan fardhu harus
dijaga. Bahkan menurut Imam Al
Ghazali dalam kitab Ihya
Ulumuddeen jilid satu yang
termasuk harus di jaga adalah
Dakwah, karena fardhu ‘Ain.
Pemikiran Imam Ghazali di
Kitab Ihya Ulumuddin terhadap
Dakwah :
Imam Ghazali katakan zaman ini
adalah zaman kebanyakan
manusia sudah lalai kepada Allah.
Ini beliau katakan 500 tahun
hijriah, dimana wali-wali masih
dimana-mana. Maka di zaman ini
kalau kita tidak datang ke rumah-
rumah menemui setiap orang,
bagaimana mereka mau ingat
kepada Allah. Maka hari ini adalah
fardhu ‘Ain untuk setiap orang
bergerak menemui setiap orang
mengingatkan mereka kepada
Allah.
Jadi pemikiran tentang Dakwah itu
adalah penting ini bukan hanya
dari satu ulama saja, seperti
Syeikh Ilyas Rah.A saja, tetapi juga
imam Ghazali, bahkan sampai ke
Rasullullah SAW sekalipun. Namun
alangkah sedikitnya manusia yang
memperhatikan perkara ini.
Padahal tidak ada cara untuk
mendekatkan diri kepada Allah
melebihi daripada mengerjakan
amal-amal fardhu.
Dan tidak henti-hentinya seorang
hamba mengerjakan amal-amal
sunnah ( bukan sekali saja tapi
secara terus menerus, dari :
Sholat Sunnah, Puasa Sunnah,
Dzikir harian, bacaan Quran,
sodaqoh, secara terus menerus ),
akhirnya dicintai oleh Allah Swt.
Jaman dulu waktu baru pertama
kali keluar 3 hari maka semangat
bahkan diulang-ulang adab tidur,
adab makan, dan adab masuk
mesjid, tetapi sesudah jadi orang
lama tidak dipraktekkan lagi, tidak
di mudzakarohkan lagi, bosan
katanya, tidak perlu adab tidur lagi
dan tidak perlu adab makan lagi.
Ini namanya pensiun dari
mengamalkan sunnah Nabi Saw.
Apabila seseorang sudah dicintai
oleh Allah Swt, maka Allah akan
memberkati matanya, memberkati
mulutnya, memberkati tangannya,
memberkati seluruh kehidupan
orang tersebut, seperti para
sahabat RA. Umar RA ini seorang
khalifah seperti kita tangannya
hanya dua saja, namun dari
tangan yang Allah berkati ini
mampu mengatur seluruh
manusia dari ujung ke ujung
dunia. Ini namanya Barokah dalam
pengaturan dari Allah Swt. Bagi
umar cukup berteriak dari
madinah sambil mengayunkan
tangannya, pasukannya yang
sedang berperang ribuan
killometer dari madinah mampu
mendengar perintah Umar RA.
Namun lihat kita hari bagaimana
keadaan kita begitu jauh dari
umar RA, mengatur satu mahalah
saja tidak becus. Masya Allah,
Allahu Akbar.
Inilah keadaan kita hari ini kurang
Barokah dari Allah Swt. Kenapa ?
ini karena kita tidak menjaga
daripada amal-amal sunnah kita
dengan sungguh-sungguh. Kita
harus menjaga dengan sungguh-
sungguh dari amal sunnah yang
dzohir dan yang bathin. Amal-amal
dzohir seperti sunnah makan,
sunnah tidur. Sedangkan amal
bathin ini seperti sunah-sunnah
dari akhlaq rasullullah SAW seperti
memaafkan orang. Nabi SAW
sifatnya itu senantiasa memaafkan
orang. Orang semakin berbuat
jahil kepada Nabi SAW, maka Nabi
SAW semakin berbuat baik,
semakin lembut kepada orang itu.
Keburukan dibalas dengan
kebaikan, ini merupakan sifat Nabi
SAW yang disebutkan dalam kitab
Taurat sebagai Nabi Akhir jaman.
Inilah yang namanya Akhlaq
sunnah memaafkan, sementara
kalo kita ini temen berbuat salah
kita inget-inget terus, sementara
kita tidak pernah inget kebaikan-
kebaikannya. Ini namanya bukan
Akhlaq sunnah. Akhlaq sunnah itu
kita senantiasa melihat kebaikan
orang, dan jangan melihat
keburukannya. Inilah akhir zaman,
jangan kita ini menuntut teman
kita ini berlebih-lebihan, lihatlah
kebaikan-kebaikannya. Dengan
cara ini maka akan timbul kasih
sayang satu sama lain dan
kesatuan hati, inilah asbab terbaik
turunnya pertolongan Allah. Umat
ini jika sudah tidak satu hati,
walaupun dipimpin oleh cucu Nabi
SAW, namun karena umat dalam
keadaan tidak rukun, dipimpin
oleh oleh sealim-alimnya manusia,
ummat tidak bisa jalan alias tidak
berfungsi alias kacau balau.
Seperti mobil yang sudah bobrok,
walaupun didatangkan supir ahli,
seorang pembalap kaliber dunia,
ini sama aja tidak akan bisa jalan.
Jadi kalau mobil bobrok, supir
jepang yang ahli dengan supir dari
jawa, ya sama aja. Namun kalau
mobil bagus dan baik kondisinya,
tidak perlu supir dari jepang, supir
dari temboro aja bisa jalan mobil
tersebut dengan baik. Intinya kita
ini jangan suka menyalah-
nyalahkan orang, contoh : gara-
gara si anu kerja ini jadi gak bisa
jalan, gara-gara dialah kerja ini
buntu. Di fikiran orang seperti ini
yang ada hanyalah “Saya risau
dengan dia ini”, kenapa dia tidak
risau pada dirinya sendiri dulu
(sibuk merisaukan orang lain tapi
tidak risau sama diri sendiri).
Nabi SAW bersabda :
“Man khola khalaqannas fa huwa
ahlaquhum au ahlaqahum”
artinya : “Barangsiapa yang
mengatakan bahwa manusia
sudah rusak, maka dia inilah yang
paling rusak”.
Menurut Ulama makna dari hadits
ini ada 2 :
1. Dianya yang rusak
2. Dia jadi asbab rusaknya
orang lain ( dianya yang
merusak orang lain )
Jadi sebagai Da’i itu harus lihat
kebaikan-kebaikan orang, akhirnya
melihat orang itu seneng.
Walaupun hanya 1 temen dia akan
merasa senang, dia syukurin
pertemanannya dengan satu orang
ini. Akhirnya asbab syukurnya ini
Allah Swt tambah temannya.
Tambah satu teman, disyukurin
lagi, pandang kebaikannya lagi,
disayang lagi, akhirnya Allah Swt
tambah temannya lagi terus
hingga temannya menjadi banyak.
Beda dengan jika banyak teman
tidak disyukurin, dimarahin terus
temannya, prasangka buruk terus,
dilihat keburukannya aja, lama-
kelamaan temannya
meninggalkannya, hingga dia tidak
punya teman. Teman ini walaupun
dia tidak mau ditaskil atau
berbeda pandangan dengan kita,
minimal dia seorang islam ini
sudah mencukupi fadhilahnya. Jika
kita bertemu mengucapkan salam,
itupun kita dapat pahala. Kita
bersalaman, dosa-dosa kita
berguguran. Apalagi kalau dia mau
diajak keluar di jalan Allah maka
akan bertambah-tambah lagi
fadhilahnya. Inilah Akhlaq Nabi
SAW, sunnah didalam Akhlaq, yaitu
suka memaafkan dan memandang
kebaikan orang lain. Maka
akhirnya dimana-mana bicara
kebaikan, sehingga kebaikan
dimana-mana tersebar.
Syech Abdul Wahab katakan :
“Da’i ini juka sudah mudzakaroh
mengenai kelemahan atau aib
temannya maka ini akan
menyebabkan kerja ini menjadi
lemah.”
Maulana Umar Rah.A cerita :
Ada suatu rombongan dari suatu
negeri datang ke masyeikh untuk
membeberkan kekurangan dan
kelemahan syuro di negerinya.
Setiap orang di rincikan masalah
dan kekurangan mereka. Sehingga
Maulana Umar bertanya, “Kenapa
nama kamu tidak ditulis disini ?
apakah kamu tidak punya
kelemahan, tidak punya ya ?”
jangan kamu lihat kelemahan
orang-orang itu sehingga kamu
tidak akan bisa kerja sama.
Akibatnya kerja dakwah ini akan
terhenti. Lihatlah kebaikan-
kebaikan mereka.”
Cerita ulama jaman dulu :
“Dulu ada kisah seorang bernama
si fulan. Si fulan ini setiap ketemu
orang langsung mencium bau
busuk dan mencibirnya. Di
rumahnya dia ketemu istrinya
marah dia bilang istrinya ini bau
busuk sekali. Ketemu ayahnya
marah, dia bilang kok bau busuk
sekali. Lalu ke mesjid begitu juga,
ketemu ulama dia bilang ini ulama
kok bau busuk sekali. Kemana-
mana pergi dia marah-marah
bilang semua orang busuk.
Sehingga akhirnya datanglah
seorang temannya menasehatinya
untuk tidak seperti itu. Lalu si
fulan katakan, “Ya memang
keadaannya seperti itu semua
orang bau busuk.” Teman nya
bilang jangan seperti itu, bau
busuk itu dikarenakan di hidung
kamu itu ada kotoran tai ayam
nempel di dalam hidung kamu.
Terkejut dia mendengarnya dia
langsung pulang membersihkan
hidungnya. Setelah dibersihkan
hidungnya, diberi pembersih dan
pewangi, sehingga kini dia ketemu
istrinya kok jadi wangi, begitu juga
ketemu ayahnya, ketemu ulama di
mesjid juga begitu, semua orang
jadi wangi. Akhirnya dia sadar
rupanya selama ini yang
bermasalah itu hidungnya.”
Inilah gambaran bagaimana orang
jaman dulu memberi nasehat yah
seperti ini penuh dengan hikmah.
Jadi ketika menuduh orang lain
buruk atau melihat keburukan
orang lain, sesungguhnya itu
sebenarnya datang dari keburukan
diri sendiri. Orang baik itu ya
ngeliat apa aja ya baik saja. Ada
laki perempuan sedang berjalan,
maka orang baik ini akan
memandang “Wah ini suami isteri
mesra sekali.” Tetapi kalau orang
buruk dia akan memandang, “Wah
ini pasti mau zina mereka”. Jadi
kalau orang baik itu melihat suatu
perkara ya baik aja, sehingga yang
datang yang baik-baik sama dia.
Kita tidak akan bisa buat usaha
dakwah kecuali dengan melihat
kebaikan orang. Kalau ini bisa
dilakukan, maka orang seperti ini
hanya akan melihat kebaikan pada
orang atau ummat, sehingga dia
jatuh cinta pada ummat, sayang
kepada ummat, dan mau usaha
atas ummat. Inilah akhlaq
Rasullullah SAW. Walaupun sudah
diperlakukan sedemikian rupa oleh
abu jahal, tapi beliau masih
berharap keislamannya.
Sebagaimana umar ketika masih
membenci islam habis-habisan,
tapi Nabi SAW masih berharap
keislamannya Umar RA, “Ya Allah
kuatkan islam dengan islamnya
Umar ibn Khottob”.
Jadi tidak hentinya seseorang itu
secara terus menerus mencintai
dan mengamalkan sunnah Nabi
SAW, sehingga dia dicintai Allah
Swt. Jika Allah Swt sudah
mencintai hambanya maka
kehidupannya akan diberkati.
Pembicaraannya, tangannya,
matanya, kakinya,
perdagangannya, semua diberkati
oleh Allah Swt. Seorang kalau
sudah diberkati oelh Allah
walaupun usahanya yang kelihatan
hanya sedikit tetapi hasilnya bisa
besar. Seperti Ali RA ketika dia
sedang mengumpulkan kabilah
Hamadan di yaman, beliau hanya
bicara 5 menit saja, “Saya di utus
oleh Rasullullah SAW untuk
mengajak kalian semua masuk
islam.” Mendengar pembicaraan
Ali yang sedikit ini langsung satu
suku semuanya masuk islam
padahal belum dijelaskan tentang
islam dan aturannya bagaimana.
Ini asbab kata-kata Sayidina Ali RA
ini betul-betul diberkati oleh Allah
Swt. Sehingga sangking
gembiranya sayidina Ali membuat
syair, “Seumpama saya ini sebagai
juru kunci surga, maka nanti
orang yaman ini saya masukan
surga duluan, karena orang yaman
ini di taskil sangat gampang.” Jadi
amal-amal infirodhi kita ini sangat
penting sehingga amal ijtimai kita
diberkati oleh Allah Swt. Sehingga
Allah katakan :
1. Jika dia berdoa kepadaKu pasti akan Aku berikan
2. Jika dia mohon perlindungan kepada Ku pasti akan saya lindungi
Ini jika orang sudah mengerjakan sunnah dijaga secara terus
menerus, sunnah dalam akhlaq, sunnah dalam ibadat. Para
Masyeikh kita amalan-amalan sunnah ini dijaga luar biasa. Saya
membaca sejarah kehidupan Hadratji Innamul Hasan yang
ditulis oleh Maulana Syahid di pesantren Deoband India. Beliau
katakan bahwa syekh Innamul Hasan ini sehari membaca Quranini 15 Juz, maka dalam 2 hari pasti
khattam. Dzikirnya tiap hari 70.000 lafadz, duduknya 4 jam khusus
untuk dzikir setiap harinya. Padahal kesibukan beliau dalam
dakwah, mengajar, khidmat, ini luar biasa sekali tetapi masih
sempat untuk istiqomah dalam amalan infirodhi. Walaupun
dengan kesibukan beliau yang luar biasa, namun tetap amal-amal
infirodhinya, amalan pribadi terjaga secara istiqomah sehingga
kerja-kerja beliau yang secara ijtimai ini diberkati. Ini sebetulnya
bukan perkara yang aneh, karena Nabi SAW juga seperti itu bahkan
diberitakan di dalam Al Quran, bagaimana Tahajjudnya Nabi SAW
separuh malam. Jika Malam itu adalah 12 jam maka tahajjudnya
Nabi SAW ini minimum 4 jam dan kebanyakan 6 jam. Maka orang-
orang yang menjaga amalan- amalan seperti inilah yang digunakan Allah untuk kerja-kerja besar.
Dalam Suatu Hadits dikatakan :
“Apabila Allah sudah mencintai seseorang, maka Allah akan
panggil Jibril untuk
mengumumkan, “Hai Jibril Aku
sudah mencintai si fulan maka
cintailah dia”. Lalu Jibril akan
mengumumkan kepada penduduk
langit (seluruh malaikat) , “Hai
para penduduk langit Allah
mengatakan bahwa Allah sudah
mencintai si fulan maka cintailah
dia. Jika penduduk langit sudah
mencintai dia, maka penduduk
bumipun akan mencintai dia.”
Sekarang kita balikkan kenapa
orang-orang mahalah ini susah
kita temuin, jika kita datangin
malah terusik dan terganggu. Ini
mungkin karena penduduk langit
belum mencintai kita, kenapa ?
mungkin karena kita kebanyakan
tidur, tidak menjaga dari pada
amalan sunnah dan amalan
infirodhi (pribadi/sendirian) kita.
Ini karena penduduk langit tidak
ada yang tidur, sehingga mereka
melihat kita ini bosen, tidur
melulu : Taklim tidur, Bayan tidur,
penanggung jawab lagi, bagaimana
ini ?
Jadi manusia ini jika sudah dicintai
oleh ahli langit maka dia akan
dicintai oleh ahli bumi. Kalau
orang itu sudah dicintai oleh ahli
langit, maka mengajak orang
kepada kebaikan itu mudah,
ditaskil itu mudah. Maka
bagaimana kita ini senantiasa
dalam kerja agama ini arahnya itu
mempercantik amalan kita di
hadapan Allah Swt.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar